Dua Penyakit Lisan yang Merusak Tatanan Masyarakat: Ghibah dan Namimah
![]() |
| Ilustrasi keharmonisan hubungan social (Sumber: Freepik.com) |
BeniSubianto.web.id - Ghibah dan Namimah adalah dua penyakit lisan yang sering dianggap sepele, padahal dampaknya sangat serius. Bukan hanya merusak hubungan antarindividu, tetapi juga mampu menghancurkan persaudaraan, menyalakan fitnah, dan merusak tatanan masyarakat.
Tulisan ini saya rangkum dari sebuah khutbah Jumat di Desa Parang Batang RT.004 (19/12/2025) yang sangat relevan dengan kondisi sosial kita hari ini.
Di era serba cepat seperti sekarang, menjaga lisan itu ibarat quality control dalam hidup. Sedikit lengah, dampaknya bisa ke mana-mana.
Pentingnya Menjaga Lisan dalam Islam
Islam sangat menekankan pentingnya menjaga lisan. Bahkan, kualitas keislaman seseorang bisa dilihat dari sejauh mana orang lain merasa aman dari ucapan dan perbuatannya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa seorang muslim sejati adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Artinya, ucapan kita seharusnya memberi rasa aman, bukan malah memicu konflik.
Makna Surah Al-Humazah: Larangan Menggunjing dan Mengadu Domba
Allah Subhanahu wa Ta‘ala berfirman dalam Surah Al-Humazah:
Allah berfirman:
ÙˆَÙŠْÙ„ٌ Ù„ِÙƒُÙ„ِّ Ù‡ُÙ…َزَØ©ٍ Ù„ُÙ…َزَØ©ٍ
Artinya: "Celakalah bagi setiap pengumpat dan pencela.”
Para ulama menjelaskan bahwa ayat ini mencakup dua perbuatan besar, yaitu:
- Humazah: orang yang suka menyebarkan adu domba dan memecah persaudaraan.
- Lumazah: orang yang gemar menggunjing dan mencari-cari aib orang lain.
Keduanya sama-sama berbahaya dan memiliki dampak sosial yang luas.
Apa Itu Ghibah dan Mengapa Sangat Berbahaya?
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan bahwa ghibah adalah menyebutkan sesuatu tentang saudara kita yang ia benci, meskipun hal tersebut benar.
Jika yang kita ucapkan ternyata tidak benar, maka dosanya lebih besar lagi dan disebut sebagai buhtan atau fitnah.
Contoh ghibah yang sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari antara lain:
- Mengomentari fisik atau penampilan seseorang
- Membicarakan kebiasaan buruk orang lain
- Menyindir kondisi rumah tangga atau ekonomi seseorang
Allah bahkan menggambarkan ghibah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati. Perumpamaan ini menunjukkan betapa menjijikkannya perbuatan ghibah di sisi agama.
Namimah: Penyebar Fitnah yang Merusak Hubungan
Berbeda dengan Ghibah, Namimah adalah perbuatan menyampaikan ucapan seseorang kepada pihak lain dengan tujuan merusak hubungan di antara mereka.
Pelaku namimah biasanya merasa sedang “menyampaikan informasi”, padahal sejatinya ia sedang menyalakan api konflik. Dalam Al-Qur’an, perbuatan ini diibaratkan seperti membawa kayu bakar untuk membesarkan api permusuhan.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan tegas memperingatkan bahwa pelaku namimah tidak akan masuk surga bersama golongan pertama. Ini menunjukkan betapa seriusnya dosa adu domba dalam Islam.
Dari Hudzaifah, ia berkata: Aku mendengar Nabi bersabda:
Ù„َا ÙŠَدْØ®ُÙ„ُ الجَÙ†َّØ©َ Ù†َÙ…َّامٌ (رواه مسلم)
Artinya, “Tidak akan masuk surga, bersama golongan yang pertama masuk surga, orang yang suka menyebarkan namimah.” (HR Muslim).
Fokus Memperbaiki Diri, Bukan Sibuk Mencari Aib
Di tengah banyaknya fitnah, orang yang cerdas adalah mereka yang sibuk memperbaiki diri. Bukan mereka yang gemar membicarakan kesalahan orang lain.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengingatkan bahwa sebagian orang sangat jeli melihat kesalahan kecil pada saudaranya, namun lupa dengan kesalahan besar pada dirinya sendiri.
Pesannya jelas: mulai dari diri sendiri. Perbaiki lisan, jaga sikap, dan rawat persaudaraan.
Penutup: Menjaga Lisan Demi Kehidupan yang Lebih Tenang
Ghibah dan Namimah bukan hanya dosa personal, tetapi juga ancaman serius bagi keharmonisan masyarakat. Jika ingin hidup lebih tenang dan lingkungan yang lebih sehat, semuanya berawal dari lisan yang terjaga.
Semoga tulisan ini menjadi pengingat, baik untuk penulis maupun pembaca, agar lebih berhati-hati dalam berbicara dan lebih fokus memperbaiki diri daripada mencari-cari aib orang lain.
Desa Parang Batang RT.004, Hanau
Isi khutbah di ambil dari Aplikasi NUOnline.

