Hikmah Isra Mi'raj: Perjalanan Iman yang Mengubah Cara Kita Menyembah Tuhan
BeniSubianto.web.id - Kalau kita duduk sebagai jamaah Jumat, lalu mendengar kisah Isra Mi’raj dibacakan dari mimbar, biasanya suasana langsung hening. Hati ikut terbawa. Ada rasa kagum, ada juga rasa bertanya-tanya. Kok bisa? Kok sejauh itu? Kok setinggi itu?
Sebagai seorang khatib, saya sering menyampaikan kisah ini. Tapi jujur saja, sebagai pendengar juga, saya merasa Isra Mi’raj bukan sekadar cerita besar tentang mukjizat. Ada Hikmah Isra Mi'raj yang sangat dekat dengan kehidupan kita sehari-hari, kalau mau pelan-pelan direnungkan.
Mari kita duduk sebentar, menenangkan pikiran, lalu menyimak makna Isra Mi’raj bukan hanya dengan telinga, tapi juga dengan hati.
Isra Mi'raj: Perjalanan di Saat Nabi Sedang Diuji
Sebelum Isra Mi’raj terjadi, Rasulullah SAW berada di titik hidup yang sangat berat. Tahun itu dikenal sebagai ‘Aamul Huzn, tahun kesedihan.
Orang yang paling beliau cintai, Khadijah RA, wafat. Pamannya Abu Thalib, pelindung dakwahnya, juga meninggal dunia. Di Makkah, tekanan semakin kuat. Di Thaif, beliau bahkan diusir dan dilempari batu.
Kalau kita di posisi itu, mungkin sudah menyerah. Atau minimal bertanya, “Ya Allah, kenapa hidupku seberat ini?”
Di sinilah salah satu Hikmah Isra Mi'raj mulai terasa. Allah tidak langsung memberi kemenangan atau kekuasaan. Allah justru mengajak Rasul-Nya “naik”, mendekat, dan menguatkan hati.
Makna Isra: Perjalanan Malam yang Mengajarkan Ketaatan
Isra adalah perjalanan Rasulullah SAW dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dalam satu malam. Secara logika manusia biasa, ini sulit diterima.
Tapi sebagai pendengar khutbah, saya sering menangkap pesan sederhana: Iman tidak selalu bisa dijelaskan dengan logika.
Isra mengajarkan kita bahwa ketaatan itu kadang berjalan lebih dulu daripada pemahaman. Kita patuh, meski belum sepenuhnya mengerti.
Seperti perintah shalat. Kita jalani dulu. Pelan-pelan, baru terasa manfaatnya.
Masjid Aqsa dan Ikatan Umat Beriman
Kenapa harus Masjidil Aqsa? Kenapa tidak langsung ke langit?
Di sinilah Isra Mi’raj menghubungkan sejarah para nabi. Rasulullah SAW menjadi imam shalat para nabi sebelumnya. Sebuah isyarat bahwa risalah Islam adalah kelanjutan, bukan pemutusan.
Ini juga menjadi pengingat bahwa umat Islam punya ikatan spiritual yang kuat dengan Masjidil Aqsa. Bukan sekadar tempat jauh di peta, tapi bagian dari iman.
Makna Mi'raj: Naik untuk Merendah
Mi’raj adalah perjalanan Rasulullah SAW naik ke langit, bertemu para nabi, hingga menerima perintah shalat langsung dari Allah SWT.
Menariknya, setelah naik setinggi itu, Rasulullah tidak menjadi sombong. Justru beliau semakin rendah hati, semakin lembut, dan semakin peduli pada umatnya.
Ini Hikmah Isra Mi'raj yang sering luput: semakin dekat kepada Allah, seharusnya semakin tawadhu kepada manusia.
Shalat: Hadiah, Bukan Beban
Perintah shalat lima waktu lahir dari peristiwa Mi’raj. Awalnya lima puluh, lalu diringankan menjadi lima, tapi pahalanya tetap lima puluh.
Sebagai jamaah, saya sering merenung: kenapa shalat yang sering kita anggap berat, justru disebut hadiah?
Karena shalat itu sebenarnya ruang curhat. Tempat kita mengadu tanpa sensor. Tempat kita berdiri sebagai hamba, bukan sebagai siapa-siapa.
Shalat bukan sekadar kewajiban, tapi bukti kasih sayang Allah kepada hamba-Nya.
Ujian, Penghambaan, dan Kemuliaan
Kalau dirangkum, Isra Mi’raj mengajarkan satu pola penting: ujian → penghambaan → kemuliaan.
- Rasulullah diuji dengan kesedihan dan penolakan.
- Beliau tetap teguh dalam penghambaan.
- Allah mengangkat derajatnya dengan Isra Mi’raj.
Pola ini juga sering terjadi dalam hidup kita. Setelah sabar, biasanya ada jalan. Setelah ikhlas, sering muncul kemudahan.
Mungkin tidak selalu berupa keajaiban besar. Tapi cukup ketenangan hati saja, itu sudah luar biasa.
Hikmah Isra Mi'raj dalam Kehidupan Sehari-hari
Kalau kita tarik ke kehidupan sekarang, Hikmah Isra Mi'raj bisa kita rasakan dalam hal-hal sederhana:
- Shalat tepat waktu sebagai bentuk disiplin iman.
- Sabar saat diuji, karena Allah tidak pernah lalai.
- Merendahkan hati meski punya kelebihan.
- Menjaga hubungan dengan Allah sebelum menuntut dunia.
Isra Mi’raj bukan hanya peristiwa sejarah. Ia adalah pengingat tahunan agar iman kita naik, bukan malah turun.
Penutup: Mari Naik Bersama Isra Mi'raj
Bersama-sama—mari belajar dan mengambil hikmah yang terkandung. Isra Mi’raj bukan hanya milik Rasulullah SAW, tapi juga undangan bagi kita untuk memperbaiki kualitas ibadah.
Mari jadikan peringatan Isra Mi’raj sebagai momentum. Bukan sekadar seremonial, tapi perubahan kecil yang konsisten.
Perbaiki shalat, luruskan niat, dan kuatkan penghambaan.
Siapa tahu, dari sana Allah angkat derajat kita, meski tidak ke langit, tapi cukup ke hati yang lebih tenang dan hidup yang lebih berkah.
Teks Naskah : NuOnline

