Khutbah Jum'at: Hanya Secepat Waktu Pagi ke Sore, Catatan dari Bangku Masjid
BeniSubianto.web.id - Tadi, saat duduk bersila di barisan tengah masjid, saya termenung mendengarkan khatib. Kalimat pembukanya terasa menghunjam: "Ramadan sudah hampir berakhir, dan kita hanya mengalaminya sekejap saja." Rasanya baru kemarin kita mencari hilal, kini kita sudah bersiap mengucap selamat tinggal.
Khatib mengingatkan kami semua bahwa kelak di hari kiamat, kita akan bersaksi bahwa hidup di dunia ini tidak lebih dari "sepenggal waktu pagi atau sore saja". Sebuah analogi yang membuat bulu kuduk merinding. Bagaimana mungkin pencapaian puluhan tahun yang kita kejar mati-matian, pada akhirnya hanya terasa seperti satu putaran jarum jam?
Penyesalan yang Terlambat
Salah satu poin yang paling menyentuh adalah tentang penyesalan orang-orang yang telah mendahului kita. Mereka yang semasa hidupnya lalai, terjebak dalam kesenangan semu, dan lupa bahwa dunia hanyalah tempat transit. Khatib membacakan firman Allah SWT:
حَتَّىٰ إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ . لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ
"Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, 'Wahai Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat amal saleh terhadap apa yang telah aku tinggalkan.'" (QS. Al-Mu'minun: 99-100)
Saya pun berpikir, kita sering rela banting tulang sebulan penuh demi gaji yang tidak seberapa. Kita rela menahan kantuk dan lapar demi target kantor. Namun, mengapa kita sering merasa berat untuk "bersusah payah sebentar" dalam ketaatan demi kebahagiaan yang abadi?
Lelah yang Akan Terhapus
Ada sebuah hadits indah yang diceritakan di mimbar tadi. Tentang seseorang yang paling menderita di dunia namun ia penghuni surga. Hanya dengan sekali celupan di surga, ia ditanya apakah ia pernah merasa sengsara? Jawabannya mengejutkan: "Tidak, demi Allah, aku tidak pernah merasakan penderitaan apa pun."
Kalimat ini menyadarkan saya bahwa setiap lelah kita dalam berpuasa, setiap kantuk kita saat tarawih, dan setiap perjuangan kita menahan amarah, semuanya akan dihapus dengan satu tetes rahmat-Nya di akhirat nanti.
Setelah Ramadan, Lalu Apa?
Khatib menutup dengan pesan yang sangat praktis. Bahwa seorang mukmin tidak mengenal kata "berhenti". Jika satu urusan selesai, maka kerjakan urusan lain dengan sungguh-sungguh (Fa-idza faraghta fanshab). Setelah Ramadan pergi, perjuangan belum usai. Ada Puasa Syawal menanti, yang pahalanya laksana puasa setahun penuh jika digabung dengan Ramadan.
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ، كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ
"Barangsiapa yang berpuasa Ramadan kemudian mengikutinya dengan puasa enam hari di bulan Syawal, maka seakan-akan ia berpuasa setahun penuh." (HR. Muslim)
Keluar dari masjid, saya membawa sebuah tekad baru: Jadikan waktu yang sebentar ini untuk ketaatan. Jangan sampai kita menjadi orang yang memohon waktu tambahan saat malaikat maut sudah di depan mata.
Semoga Allah memberikan kita Husnul Khatimah. Amin ya Rabbal alamin.

