Jalanan Kalimantan Tengah yang Selalu Bergelombang: Cerita Lama di Tanah Gambut
BeniSubianto.web.id - Sebagai warga Kalimantan Tengah, ada satu hal yang rasanya sudah jadi obrolan turun-temurun: kenapa jalan di sini sering bergelombang? Baru mulus sebentar, eh beberapa bulan kemudian sudah naik-turun seperti ombak kecil. Video TikTok yang viral di link vt.tiktok.com/ZSaaMhnjm itu rasanya mewakili keluhan banyak orang. Bukan cuma lucu, tapi juga pahit karena itu realita yang kami hadapi hampir setiap hari.
Di video tersebut terlihat pengendara merekam kondisi jalan yang tampak seperti permukaan laut saat angin kencang. Mobil dan motor harus ekstra pelan, kalau tidak siap-siap suspensi cepat minta pensiun. Buat orang luar, mungkin ini konten hiburan. Buat kami, ini cerita hidup.
Gambaran dari Video TikTok: Bukan Editan, Tapi Kenyataan
Kalau diperhatikan, jalan dalam video itu sebenarnya beraspal. Tidak berlubang besar, tidak juga hancur total. Tapi permukaannya naik turun tidak rata. Seperti kasur lama yang busanya sudah bergeser. Inilah yang sering kami sebut jalan “bergelombang”.
Kondisi seperti ini banyak ditemui di ruas antar-kabupaten, bahkan di jalur yang cukup vital. Bukan hanya di pedalaman, tapi juga mendekati kota. Video tersebut terasa jujur karena tidak berlebihan. Tidak ada dramatisasi. Hanya kamera, jalan, dan kenyataan.
Tanah Gambut: Akar Masalah yang Sering Dilupakan
Salah satu penyebab utama jalan bergelombang di Kalimantan Tengah adalah struktur tanah gambut. Sekitar lebih dari 3 juta hektare wilayah Kalteng tercatat sebagai lahan gambut menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Tanah gambut itu ibarat spons. Saat musim hujan, dia mengembang karena menyerap air. Saat kemarau, dia menyusut. Jalan yang dibangun di atasnya ikut “bernapas”. Akibatnya, aspal yang tadinya rata jadi bergelombang.
Data Kerusakan Jalan: Bukan Sekadar Perasaan
Kalau ada yang bilang, “Ah, itu cuma perasaan warga saja”, data berkata lain. Berdasarkan data BPS Kalimantan Tengah, dalam beberapa tahun terakhir, lebih dari 30% jalan provinsi dan kabupaten tercatat dalam kondisi rusak ringan hingga rusak berat.
Kerusakan ini bukan selalu lubang besar. Banyak yang masuk kategori rusak karena ketidakrataan permukaan, alias bergelombang. Secara teknis, ini sudah cukup membahayakan, terutama bagi pengendara roda dua.
Cuaca Ekstrem dan Beban Kendaraan
Kalimantan Tengah punya curah hujan yang tinggi. Dalam setahun, rata-rata 2.500–3.000 mm. Air yang terus meresap ke tanah mempercepat penurunan struktur jalan.
Belum lagi beban kendaraan berat. Truk angkutan sawit, kayu, dan logistik lain sering melintas di jalan yang sebenarnya bukan dirancang untuk tonase sebesar itu. Ibarat papan tipis diinjak ramai-ramai, lama-lama pasti melengkung.
Kenapa Sering Diperbaiki Tapi Rusak Lagi?
Ini pertanyaan klasik. Jawabannya sederhana tapi pahit: perbaikan di tanah gambut butuh biaya dan teknologi lebih. Kalau hanya tambal aspal tanpa perkuatan pondasi, hasilnya cuma sementara.
Makanya, warga sering bercanda, “Jalan di sini bukan rusak, tapi hidup.” Karena dia terus berubah.
Harapan Warga: Lebih dari Sekadar Aspal Baru
Kami tidak menuntut jalan seperti di kota besar. Yang kami harapkan cukup aman, rata, dan tahan lama. Dengan perencanaan yang sesuai karakter tanah, penggunaan geotekstil, dan pengawasan tonase, jalan bergelombang ini sebenarnya bisa dikurangi.
Video TikTok itu seharusnya bukan cuma jadi bahan ketawa, tapi pengingat. Bahwa di balik gelombang aspal itu, ada aktivitas ekonomi, ada keselamatan, dan ada cerita warga Kalimantan Tengah yang ingin melaju tanpa harus terus bergoyang.

